Skip to main content

Bolehkah Aku Menolak Lupa?

pernah kah kalian dinilai secara subjektif oleh orang orang tertentu? kalau begitu, coba rasakan pengalamanku.

coba berpijak sejenak pada titikku berada. untuk mengetahui dimana lokasiku, petunjuknya adalah ini:

saat itu aku mengerjakan tugas, kemudian mengumpulkannya. aku yang memang tidak termasuk pada jajaran ranking tertinggi di kelas ini ditanya, "nyontek ya?" terima kasih, pertanyaan yang sudah memvonisku terlebih dahulu.

lain cerita saat hasil kerjaku yang dipinjam oleh temanku, salah satu jajaran ranking tertinggi di kelas. jujur aku tidak merasa  keberatan untuk meminjamkannya, hanya saja saat itu aku merasa keberatan ketika tugasku sudah diantar oleh ayah ke sekolah agar pengumpulan tugas bisa tepat waktu (karena aku berhalangan hadir ke sekolah) itu dinilai lebih rendah dibandingkan tugas temanku yang meminjam tugasku terlebih dahulu dan mengumpulkannya beberapa hari kemudian.

saat aku satu satunya murid di kelas yang mendapatkan nilai seperempat, dan hanya aku yang mendapatkan nilai dibawah batas kriteria minimal, aku tidak sedikitpun merasa keberatan karena aku ingat betul memang tidak semua soal kukerjakan. terima kasih, tetapi mengapa hanya angkaku saja yang dipertanyakan? ketika aturan mainnya adalah dilarang berdiskusi bersama teman, temanku yang bernilai 100 itulah yang berdiskusi denganku karena ia mendapatkan pertanyaan yang pernah aku baca. ah memang tidak seluas itu, tapi iya, iya kami sempat berdiskusi sedikit, sedikitnya sedikit yang sangat amat sedikit. lagi lagi sebenarnya aku tidak keberatan, tetapi jika orang yang melihat kami berdiskusi itu langsung menyimpulkan bahwa aku lah yang bertanya tentang pertanyaan yang kudapat... ya sudahlah? lagipula, temanku yang lain juga dinilai 100, lalu ia sendiri heran karena merasa jawabannya tidak bernilai 100.

ya tuhan, sebanyak itukah pendaman ketidakterimaanku diperlakukan oleh sesama manusia?

iya, tuhan maha adil sedangkan yang kuhadapi saat itu adalah manusia. apa sifat sifat dari manusia? seberapa salah mengharapkan keadilan dari seorang manusia? ketika teman temanku mendapatkan perbaikan nilai karena kesalahan pencetakan angka, aku yang hanya ingin tahu apa nilaiku juga salah cetak atau tidak ini dianggap meminta dinilai lebih. mungkin ini yang namanya miskomunikasi. wah wah wah sudah terbayang aku ada dimana, belum?

sebenarnya aku juga (tidak ingin berhenti) penasaran mencari tahu dimana titik letak sudut pandang yang berbeda denganku. sayangnya sejauh ini aku rasa hal itu masih belum cukup memungkinkan untuk dilakukan, semoga secepatnya bisa terealisasi.

cerita ini memang cerita lama, tapi rasanya masih belum lega karena aku sendiri yang mengalami. padahal cukup ikhlaskan saja, semuanya selesai. tapi cara orang menuju ikhlas itu berbeda beda, semoga saja caraku ini (dengan menulis) bisa mengantarkan aku sampai tujuan.

terakhir, izinkan aku sedikit emosional.

?!(%+#*!(!(+

terima kasih

Popular posts from this blog

Update Saldo Tapcash BNI

Mau nyobain bikin tulisan tutorial hehehe Post ini terinspirasi dari pengalaman pait pribadi huhuhu. Ceritanya waktu itu lagi di stasiun jakarta kota mau pulang ke kosan di depok. Aku pengguna mobile banking dan di menunya ada opsi buat isi ulang tapcash. Aku coba isi ulang lewat mobile banking karena saldo tapcashku kurang buat naik kereta. Setelah isi ulang, santai tuh main langsung tap in aja. Di gate nya kan suka muncul jumlah saldo, dan ternyata saldo aku masih sejumlah sebelum aku isi ulang tadi. Aku kaget dong, aku takut kena penalti dan harus bayar 50ribu huhuhu. Akhirnya aku setelah tap gajadi masuk dan balik lagi beli Tiket Harian Berjaminan. Singkat cerita nyampe kosan tapi mikir mikir lagi jadinya gimana ya tapcash ku ini, udah tap in tapi gakepake, ga dipake tap out... hayo gimana? Agak waswas juga sih takut ngaruhnya yang aneh aneh hahaha. Beberapa hari kemudian aku pake lagi tapcashnya buat naik kereta, tapi aku isi ulang dulu lewat atm. Kalo lewat mesin atm, saldonya...

Ke Observatorium Bosscha yuk!

    Nah, siapa disini yang gatau observatorium bosscha? Atau belum pernah kesana sama sekali? Atau malah pengen kesana tapi gatau gimana caranya? Mau kesana tapi gaada temen? Takut pergi sendiri? Udah ngemodus minta dianterin kesana tapi doi ga peka peka? Emangnya bisa kunjungan kesana sendiri gapake rombongan rombongan gitu? Gimana? Gimana gimana gimana? Waaaauaaaa sayang sekali saudara saudara~ sekarang saya akan mencoba menghipnotis saudara saudara sekalian buat menghapus keraguan kegalauan kegundahan hati dari pertanyaan pertanyaan tadi ngwauahahah      Jadi ceritanya beberapa bulan yang lalu hasrat saya untuk ngebolang muncul. Waktu itu temen saya bilang kalo kunjungan ke observatorium bosscha itu cuma dibuka buat yang rombongan gituu minimal puluhan orang terus pake izin izin dari h-sekian sebelum kunjungan, padahal disitu saya lagi pengen banget kesana dan saya gapunya puluhan orang buat diajak kunjungan kesana. Harapan seakan akan musnah, hat...
yah.. akumah sedih terus aja ngomong gitu yah.. akumah sedih abisnya realitasnya gitu yah.. akumah sedih diri sendiri masih aja cuma segitu yah.. akumah sedih yaudah sih gitu...